PONDOK PESANTREN AL-MUBAROK. AL-ARBA’IN PENDINGAN
PONDOK PESANTREN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Puji syukur atas kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, atas rahmat, hidayah dan ridho-Nya, penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang membahas tentang ظنّ وأخواتها (dzonna dan saudara-saudaranya).
Tak lupa juga kami berterima kasih kepada :
1) ROMO YAI: MUHARROR KHUDLORI AHMAD selaku Pimpinan pondok pesantren Al-mubarok
2) Kepada guru kami yang selalu mendoakan dan mendukung kami.
3) Dan kepada rekan-rekan yang telah membantu kami dalam menyelesaikan tugas pembukuan kitab nahwu sorof lughot
Terimakasih
Wassalamualaikum warahmartullahi wabarokatuh
sumugawe getasan, Agustus 2022
Daftar isi
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………. i
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………… ii
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………….. iii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………. 1
A. Pendahuluan…………………………………………………………………………… 1
B. Rumusan Masalah……………………………………………………………………. 1
C. Tujuan Makalah………………………………………………………………………. 1
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………….. 2
A. Penjelasan Dzonna dan Saudara-saudaranya………………………………. 2
B. Macam-macam Amil Dzonna saudaranya ………………………………….. 2
C. Saudara ظن sekaligus contohnya……………………………………… 2
D. Hukum Ta’liq dan Ilgho’ …………………………………………………….2
E. Catatan keterangan……………………………………1
F. Tarkibannya ظن dan saudaranya……………………………………..1
BAB III PENUTUP………………………………………………………………………..
A. Kesimpulan…………………………………………………………………………… 12
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………….. 13
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kita kaum muslimin memaklumi, bahwa bahasa Arab adalah bahasa Al-qur’an. Setiap umat muslim yang bermaksud menyelami ajaran Islam yang sebenarnya yang lebih mendalam, tidak ada jalan lain kecuali dengan mampu menggali sumber dan asalnya, yaitu Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
Oleh karena itu, menurut kaidah hukum Islam, mengerti akan ilmu nahwu bagi mereka yang ingin memahami Alqur’an, hukumnya fardu ‘ain.
Dalam makalah ini akan dijelaskan sedikit dari pembagian ilmu nahwu tentang dzonna dan saudara-saudaranya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian ظنّ وأخواتها?
2. Apa macam-macam ?ظنّ وأخواتها
C. Tujuan Makalah
Untuk menjelaskan fungsi dzonna dan saudara-saudaranya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian ظنّ وأخواتها
Dzonna wa akhowatuha adalah fiil-fiil yang menasobkan mubtada dan khabar mubtada dan menjadikannya sebagai dua maf’ulnya.
وامّا طننت وأخواتها فانّها تنصب المبتدأ والخبر على انّهما مفعولانلهاوهي ظنت وحسبت وخلت وزعمت ورأيت وعلمت ووجدت واتّخذت وجعلت وسمعت
Dzonna dan saudara-saudaranya berfungsi menasobkan (dhomah) mubtada’ dan khobar yang kedua-duanya menjadi maf’ulnya (maf’ul awal dan maf’ul kedua), yaitu ظننت (aku menduga);زعمت خلت حسبنت (aku menduga); علمت رأيت ووجدت (aku telah mengetahui dengan yakin); وجعلت واتّخذت (aku menjadikan); ) سمعتaku telah mendengar).
B. Macam-macam ظنّ وأخواتها
اِنْصِبْ بِفِعْلِ الْقَلْبِ جُزْأَي ابْتِدَا أَعْنِي رَأَى خَالَ عَلِمْتُ وَجَدَا
Nashabkanlah sebab Fi’il Qulub terhadap dua juz ibtida (Mubtada dan Khabar), yakni aku maksudkan adalah: Ro’aa, Khoola, ‘Alima, Wajada.
ظَنَّ حَسِبْتُ وَزَعَمْتُ مَعَ عَدّ حَجَا دَرَى وَجَعَلَ اللَّذْ كَاعْتَقَدْ
Zhonna, Hasiba dan Za’ama, berikutnya ‘Adda, Hajaa, Daroo, juga Ja’ala yg seperti arti I’taqada (mempercayai).
وَهَبْ تَعَلَّمْ وَالَّتِي كَصَيَّرَا أَيْضَاً بِهَا انْصِبْ مُبْتَداً وَخَبَرَا
dan Hab, Ta’allam, juga yg searti dg lafazh Shoyyaro nashabkanlah juga dengannya terhadap mubtada’ dan khobar.
Keterangan:
Bagian Bab dari fiil-fiil nawasikh dzonna dan saudara-saudaranya, menashabkan mubtada’ dan khobar sebagai dua maf’ulnya. Fi’il-fi’il pada bab ini terbagi dua, Af’aalul Quluub dan Af’aalut Tahwiil.
AF’AALUL QULUUB
Dinamakan Af’aalul Quluub karena maknanya berkaitan dengan pekerjaan hati atau bersumber dari hati bukan pekerjaan anggota badan, seperti mengetahui, mengira, ragu dan yakin semuanya merupakan pekerjaan yang bersumber dari hati. Secara makna berarti pekerjaan-pekerjaan yg ada dalam hati seperti mengetahui, meyakini, menyangka, dll. Af’aalul Quluub dalam hal ini terbagi menjadi empat bagian:
Ø Berfaedah YAQIIN (meyakinkan ketetapan khobar), yaitu:
1. WAJADA. Contoh:
إنّا وجدناه صابرا
Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar
2. TA’ALLAM. Contoh:
تعلم أن الربا بلاء
Ketahuilah sesungguhnya harta riba adalah petaka
3. DAROO. Contoh:
وَلَا أَدْرَاكُمْ بِهِ
dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu
Ø Berfaedah RUJHAAN (lebih cenderung pada meyakinkan ketetapan khobar), yaitu:
1. JA’ALA (bima’na beri’tikad) contoh:
وجعلوا الملائكة الذين هم عباد الرحمن إناثاً
Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan
2. HAJAA, contoh:
حجوت الجوَّ بارداً
Aku memperkirakan cuaca dingin
3. ‘ADDA, contoh:
عددت الصديقَ أخاً
Aku menganggap teman itu sebagai saudara
4. HAB, contoh:
فقلت أجرني أبا مالك # وإلا فهبني أمرأً هالكاً
Aku Cuma mampu berkata: berilah aku kesempatan sekali lagi wahai Abu Malik! Jika tidak maka anggaplah aku sesuatu yg binasa.
5. ZA’AMA, contoh:
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا
Orang-orang yang kafir berdalih bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan.
Ø Umumnya berfaedah YAQIIN terkadang juga faedah RUJHAAN yaitu:
1. RO’AA, contoh:
إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا وَنَرَاهُ قَرِيبًا
Sesungguhnya mereka memandang siksaaan itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (mungkin terjadi). (RO’AA pertama berfaedah RUJHAAN dan RO’AA kedua berfaedah YAQIIN).
2. ‘ALIMA, contoh:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah.
Ø Umumnya berfaedah RUJHAAN terkadang juga faedah YAQIIN yaitu:
1. ZHONNA, contoh Rujhaan:
فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا مُوسَى مَسْحُورًا
lalu Fir’aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir.”
Contoh Yaqiin:
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ
(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya
2. KHOOLA, contoh:
خِلتُ الدراسةَ مُتعةً
Aku menyangka belajar itu adalah bersenang-senang.
3. HASIBA, contoh:
حسب المهملُ النجاحَ سهلاً
Orang iseng mengira kesuksesan itu mudah.
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim
AF’AALUT-TAHWIIL
Secara makna menunjukkan pada perubahan sesuatu, yakni merubah dari satu keadaan kepada keadaan yangg lain. Oleh karenanya dinamakan juga af’aalut-tashyiir, karena semua kata kerja pada bagian ini mempunyai arti syuyyiro (menjadikan). Yaitu:
1. JA’ALA, contoh:
جعلت الذهب خاتماً
Aku jadikan emas itu sebuah cincin.
وقدمنآ إلى ما عملوا من عمل فجعلناه هبآء منثورا
Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan[1062], lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.
2. RODDA, contoh:
رَدّتِ الاستقامةُ الوجوهَ المظلمة نيرةً
Istiqomah mengembalikan jalan kegelapan kepada terang benderang
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman
3. TAROKA, contoh:
تركت الطلاب يبحثون في المسألة
Aku membiarkan siswa-siswa itu membahas suatu masalah.
وتركنا بعضهم يومئذ يموج في بعض
Kami biarkan mereka di hari itu[893] bercampur aduk antara satu dengan yang lain,
4. ITTAKHODA, contoh:
اتخذت طالبَ العلم صديقاً
Aku jadikan pelajar itu sebagai teman.
واتّخذ الله إبراهيم خليلا
Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya
5. SHUYYIRO, contoh:
صيرت الزجاج لامعاً
Aku jadikan kaca itu menjadi cermin.
6. HAB, contoh:
وهبني الله فداء الحق
Semoga Allah menganugerahiku Fidaaul-haqq (balasan/tebusan kepada yg haq).
HUKUM TA’LIQ DAN ILGHO
وَخُصَّ بِالْتَّعْلِيْقِ وَالإِلْغَاء مَا مِنْ قَبْلِ هَبْ وَالأَمْرَ هَبْ قَدْ أُلْزِمَا
Hukum Ta’liiq dan Ilghaa’ hanya dikhususkan untuk Saudara-saudara Zhonna yg disebut sebelum HAB! (lihat redaksi Bait-bait sebelumnya). Dan untuk HAB! Ditetapkan pada bentuk amarnya saja (tidak mutasharrif)
كَذَا تَعَلَّمْ وَلِغَيْرِ الْمَاضِ مِنْ سِوَاهُمَا اجْعَلْ كُلَّ مَا لَهُ زُكِنْ
Seperti juga ta’allam (sama dengan HAB). Dan pada bentuk selain fi’il madhi (Zhonna dan saudara-saudaranya) selain HAB dan TA’ALLAM, jadikanlah semua hukum yg biasa berlaku pada fi’il madhinya.
Keterangan:
Telah disebutkan pada keterangan bait sebelumnya bahwa fi’il-fi’il pada bab ini terbagi menjadi AF’ALUL QULUB dan AF’ALUT-TAHWIL.
AF’ALUL QULUB dalam bab ini, ada yg mutasharrif dan ada yg tidak mutasharrif. Fiil yg mutasharrif selain HAB dan TA’ALLAM.
Selain bentuk fi’il madhi dari fi’il-fi’il mutasharrif tersebut mengamal sebagaimana hukum pengamalan yg biasa berlaku untuk fi’il madhinya. Sedangkan HAB dan TA’ALLAM tidak diberlakukan kecuali bentuk Amarnya.
Hukum Ta’liq dan Ilgha tidak boleh masuk kepada fi’il-fi’il Tashyir (أفعال التصيير) dan fi’il-fi’il qulub (أفعال القلوب) yang jamid (fi’il yang tidak bisa ditashrif) yaitu ada dua هَبْ dan تَعَلَّمْ keduanya wajib shighat amer.
Diberlakukan juga secara khusus pada fi’il-fiil qulub yg mutasharrif yaitu hukum TA’LIQ dan ILGHA’:
TA’LIQ adalah: meninggalkan pengamalan secara lafazh bukan secara makna (mengamal secara Mahal/Maqom) dikarenakan ada lafazh yg menjadi pencegah (MAANI’). Contoh: “ZHONANTU LA ZAIDUN QOOIMUN” Yg menjadi pencegah dalam contoh ini adalah huruf LAM.
ILGHA’ adalah: meninggalkan pengamalan secara lafazh dan makna tanpa adanya AANI’ (lafazh pencegah amal). Contoh: “ZAIDUN ZHONANTU QOOIMUN”…
وَجَوِّزِ الإِلْغَاء لاَ فِي الإبْتِدَا وَانْوِ ضَمِيْرَ الشَّانِ أَوْ لاَمَ ابْتِدَا
Perbolehkan menghukumi Ilgha (dzonna dan saudara-saudaranya – af’alul qulub utasharrif) yang bukan berada di awal kalimat. Dan mengiralah dhamir syaen atau lam ibtida’…
فِي مُوهِمٍ إِلْغَاء مَا تَقَدَّمَا وَالْتَزِمِ الْتَّعْلِيْقَ قَبْلَ نَفْي مَا
…didalam perkataan seorang Muhim (anggapan benar) terhadap hukum Ilgha-nya yg ada di awal kalimat. Dan wajibkanlah menghukumi Ta’liq padanya yg berada sebelum maa nafi,…
وَإِنْ وَلاَ لاَمُ ابْتِدَاءٍ أَوْ قَسَمْ كَذَا وَالاسْتِفْهَامُ ذَا لَهُ انْحَتَمْ
In naïf dan laa nafi, demikian juga lam ibtida atau lam qosam. Adapun ta’liq juga wajib dikarenakan ada istifham.
PENJELASAN ظن DAN SAUDARANYA
mengenai penjelasan dari Amil Dzonna wa Akhwatuha (dzonnantu dan saudara-saudaranya) Yang Masuk Pada Mubtada’ Dan Khobar dalam tata bahasa arab telah disebutkan dalam kitab matan al jurumiyah yang disusun atau dikarang oleh syeikh As-Shanhaji dalam bab Bab Awamil Addakhilati alal Mubtada wal khobar / Amil Amil Yang Masuk Pada Mubtada’ Dan Khobar . pengarang berkata :
وَأَمَّا ظَنَنْتُ وَأَخَوَاتُهَا فَإِنَّهَا تَنْصِبُ الْمُبْتَدَأَ وَالْخَبَرَ عَلَى أَنَّهُمَا مَفْعُوْلاَنِ لَهَا، وَهِيَ: ظَنَنتُ، وحَسِبْتُ، وَخِلْتُ، وَزَعَمْتُ، وَرَأَيْتُ، وَعَلِمْتُ، وَوَجَدْتُ، وَاتَّخَذْتُ، وَجَعَلْتُ، وَسَمِعْتُ، تَقُوْلُ: ظَنَنْتُ زَيْدًاً مُنْطَلِقَاً، وَخِلْتُ عَمْرَاً شَاخِصَاً، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ
Adapun Dzonna dan saudara-saudaranya amalnya ialah menashabkan mubtada dan khabar yang kedua-duanya menjadi maf’ulnya(maf’ul pertama dan kedua) yaitu ظَنَنْتُ (saya telah menyangka)، وَحَسِبْتُ (saya telah mengira)، وَخِلْتُ (saya telah membayangkan)، وَزَعَمْتُ(saya telah menduga) وَرَأَيْتُ (saya telah melihat)، وَعَلِمْتُ (saya telah mengetahui)، وَوَجَدْتُ (saya telah mendapatkan)، وَاتَّخَذْتُ (saya telah menjadikan)،وَجَعَلْتُ (saya telah menjadikan)، وَسَمِعْتُ (saya telah mendengar)؛Contohnya: ظَنَنْتُ زَيْدًا مُنْطَلِقًا، وَرَأَيْتُ عَمْرًا شاخصًا (Aku telah menyangka Zaid pergi, Aku telah melihat ‘Amr pergi) dan contoh lain yang menyerupainya.
ظَنَّ وَاَخَوَاتُهَا ( ظَنَّ dan saudara-saudaranya )
ظَنَّ وَاَخَوَاتُهَا ( ظَنَّ dan saudara-saudaranya ) bisa masuk kepada susunan mubtada khobar yang fungsinya menashobkan mubtada dan khobarnya, karena kedua-duanya itu menjadi maf’ul. Mubtada disebut maf’ul awal, sedangkan khobarnya disebut maf’ul tsani.
jadi dengan demikian amal ظَنَّ وَاَخَوَاتُهَا adalah :
تَنْصِبُ المُبْتَدَاَ وَالخَبَرَ
menashobkan mubtada dan khobarnya
Saudara-saudara Dzanna dengan Contohnya masing masing
a. ظَنَ (menduga)
ظَنَنْتُ الرئِيْسَ عَادِلًا(Saya menyangka pemimpin itu adil)
b. حَسبَ(menduga)
حَسبْتُ حَامدًا صَادِقًا(Saya mengira hamid itu jujur)
c. زَعَمَ (menduga/mengira)
زَعَمتُ حَامِدًا مَحْمُوْدًا(Saya kira Hamid itu Mahmud)
d. خَالَ (membayangkan)
خلْتُ اُسْتَاذًا حَاضرًا( Saya membayangkan Guru itu Hadir)
e. رَاَئ ( Melihat)
رَاَيْتُ زَيْدًا بَاكيًا (Saya melihat Zaid menangis)
f. عَلِمَ (mengetahu)
عَلِمْتُ فَاطمَةَ نَشِيْطَةً(Saya tahu Fathimah itu rajin)
g. وَجَدَ (mendapati)
وَجَدْتُ الْكِتَابَ ضَاءِعًا(Saya mendapati buku hilang)
h. جَعَلَ (menjadikan)
جَعَلْتُ الْحَدِيْدَ خَاتَمًا(Saya menjadikan besi itu cincin)
i. اِتخَذَ (menjadikan)
اِتخَذْتُ هِنْدًا زَوْجَتِيْ(Saya menjadikan Hindun sebagai istri saya)
h. سَمِعَ(mendengar)
سَمِعْت نبِيَ يَقُوْلُ(Saya mendengar Nabi bersabda)
CONTOH TARKIBAN ظن DAN SAUDARANYA
ظن (ظننت زيد قاءما)= .1
Saya mengira zaid berdiri
1.Tarkiban. :ظننت kalimah isim
2.sebab. :patut ta’tanits sakinah
3.mabni
4. sebab. : tidak bisa bisa berubah
5.mabni. : mabni sukun
6.sebab. :bertemu dengan dhomir. rofa mutaharrik
7.shigot. :musytaq fi’il madhi
8.bina. :shohih tsulasi. mujarrod
9.madhi. : dzhona
10. Qiyas. :dzhona dzhona. dzhonudzhonat. dzhonata zhinnadzhinta. dzhintuma dzhintum. dzhinti dzhintuma. dzhintunna dzhintu. dzhinna
11.i’lalnya. : tidak ada
12.maknanya :aku menduga
حسب : (حسبت الحبيب قادما) = .2
saya mengira hamid itu jujur
1. Hasibtu. :kalimah fi’il madhi
2. sebab. : patut ta’ tanits sakinah,
3. mabni
4sebab. : tidak bisa berubah
5.mabninya : sukun,
6.sebab. : bertemu dengan. dhomir rofa mutaharrik
7. shigot. : musytaq fi’il madhi
8. bina. : shohih tsulasi. mujarrod
9.madhinya. : hasiba,
10.qiyas. : hasiba yahsabu. husbanan. wamahsaban fahuwa. hasibun wadzaka mahsubun ihsab la tahsab mahsabun2× mihsabun
11.i’lalnya. : tidak ada
12.maknanya. :saya menduga/ mengira
خال ( خلت استاذ حضرا )= .3
Membayangkan Guru itu Hadir
1.Kalimah. : خلت fi’il madhi
1. sebab. :patut ta’tanits. sakinah
2. mabni
3.sebab. : tidak bisa berubah 4.mabninya. : sukun
5. sebab. : bertemu dengan. dhomir rofa mutaharrik 6.shigot. : musytaq fi’il madhi.
7. bina. :shohih tsulasi. mujarrod
8.Madhinya. : khoola
9.qiyas. :khoola khoolaa khooluu. khoolat. khoolataa khilna khilta. khiltuma khiltum. khilti. khiltuma khiltunna. khiltu khilna
11.i’lalnya. : tidak ada
12 maknanya. : menduga/ mengira
زعم. ( زعمت حامد محمود )= .4
saya kira hamid itu mahmud
1. زعمت kalimah. : fi’il madhi
2.sebab. :patut ta’tanits
3. mubni.
4.sebab. : tidak bisa berubah
5.mabnin. : sukun
6.Sebab. : bertemu dengan. dhomir rofa. mutaharrik
7.Shigot. : musytaq fi’il madhi
8.Bina. : shohih tsulasi. mujarrod
9.Madhinya. : za’amtu
10.Qiyas. : za’ama, za’amaa,za’amuu, za’amat, za’amata. za’amna za’amta. za’amtuma. za’amtum. za’amti za’amtuma. za’amtunna. za’amtu. za’amna
11.i’robnya. : tidak ada
12.Maknanya. : saya mengira/ menduga
رأي (رأيت زيد بكيا ) .5
saya melihat Zaid
menangis
1. kalimah. : isim رأيت
2.sebab. :patut ta’tanits. sakinah
3. mubni
4.sebab. : tidak bisa berubah
5.mabninya. : sukun
6.sebab. : bertemu dengan. dhomir rofa mutaharrik
7.shigot. : musytaq fi’il madhi
8.bina. : shohih tsulasi. mujarrod
9.madhinya. : ro,a
10.qiyaz. : roa roayaa roauu roat. roata roaina roaita. roaituma roaitum roaiti. roaituma roaitunna. roaitu roaina
11.i’lalnya. : tidak ada
12.maknanya. : aku melihat